Minggu, 10 Mei 2015

Tatapan Si Kecil

Matanya senyap di alunan nyawa
Hitam kusam tak tahu arah
Duduk bersipuh menatap ruang hampa
Tunduk hati, Tunduk kepala
Raut wajahnya haru, selalu melekat erat
Tanpa ada kata bahkan tawa terbata-bata

Kakinya lelah menapak jejak hitam
Hingga tangan keras, panas, dan terkelupas
Lihat dia kembali !
Matanya, tahukah kamu ?
Perih... perih sekali
Lihat lagi telinganya !
Menempel sendiri di dalam gelap

Keras langkah, terus melangkah
Tiada arah, kaki memaksanya
Bersanding dengan awan
Bersanding dengan hujan

Sayup angin berbicara lembut
Memaparkan jelas gambaran roda hidup ini
Deras hujan mengguyur mata
Si kecil mungil tak mampu membendung
Terjatuh berirama bersama alunan nafas

Sungguh sendu langkahnya
Menitih masa depan tanpa uluran semangat
Lihatlah dia!
Dia disebelahmu, sadarlah engkau !
Dia butuh kamu, sadarlah engkau !
Rasakanlah pundakya, itu tugasmu !

Bangga Kibaran Tegasmu

Tegak kaki menjulang tinggi
Busung dada menantang langit
Tatapan tajam menembus angan
Hanya untukmu
Wahai sang pemberani

Kaki merapat kuatkan tekad
Singsingkan lengan angkat keatas
Rapatkan jari gejolakan semangat
Hanya untukmu
Wahai sang pemilik jiwa suci

Kaki lemah tetap melangkah
Mengangkatmu tegas hingga puncak
Sumpah janji terucap lugas
Hanya untukmu
Wahai sang pusaka

Pekik merdeka itu kekuatanmu
Hembusan angin mengkokohkan gerakmu
Genggaman erat tangan bangsa ini
Hanya untukmu
Wahai sang merah putihku