Matanya senyap di alunan nyawa
Hitam kusam tak tahu arah
Duduk bersipuh menatap ruang hampa
Tunduk hati, Tunduk kepala
Raut wajahnya haru, selalu melekat erat
Tanpa ada kata bahkan tawa terbata-bata
Kakinya lelah menapak jejak hitam
Hingga tangan keras, panas, dan terkelupas
Lihat dia kembali !
Matanya, tahukah kamu ?
Perih... perih sekali
Lihat lagi telinganya !
Menempel sendiri di dalam gelap
Keras langkah, terus melangkah
Tiada arah, kaki memaksanya
Bersanding dengan awan
Bersanding dengan hujan
Sayup angin berbicara lembut
Memaparkan jelas gambaran roda hidup ini
Deras hujan mengguyur mata
Si kecil mungil tak mampu membendung
Terjatuh berirama bersama alunan nafas
Sungguh sendu langkahnya
Menitih masa depan tanpa uluran semangat
Lihatlah dia!
Dia disebelahmu, sadarlah engkau !
Dia butuh kamu, sadarlah engkau !
Rasakanlah pundakya, itu tugasmu !
Am's
Minggu, 10 Mei 2015
Bangga Kibaran Tegasmu
Tegak kaki menjulang tinggi
Busung dada menantang langit
Tatapan tajam menembus angan
Hanya untukmu
Wahai sang pemberani
Kaki merapat kuatkan tekad
Singsingkan lengan angkat keatas
Rapatkan jari gejolakan semangat
Hanya untukmu
Wahai sang pemilik jiwa suci
Kaki lemah tetap melangkah
Mengangkatmu tegas hingga puncak
Sumpah janji terucap lugas
Hanya untukmu
Wahai sang pusaka
Pekik merdeka itu kekuatanmu
Hembusan angin mengkokohkan gerakmu
Genggaman erat tangan bangsa ini
Hanya untukmu
Wahai sang merah putihku
Busung dada menantang langit
Tatapan tajam menembus angan
Hanya untukmu
Wahai sang pemberani
Kaki merapat kuatkan tekad
Singsingkan lengan angkat keatas
Rapatkan jari gejolakan semangat
Hanya untukmu
Wahai sang pemilik jiwa suci
Kaki lemah tetap melangkah
Mengangkatmu tegas hingga puncak
Sumpah janji terucap lugas
Hanya untukmu
Wahai sang pusaka
Pekik merdeka itu kekuatanmu
Hembusan angin mengkokohkan gerakmu
Genggaman erat tangan bangsa ini
Hanya untukmu
Wahai sang merah putihku
Langganan:
Postingan (Atom)